Progresivitas Pasar Baja Asia Tenggara di H2 2019

Besi Impor Cina Banjiri Pasar Asia Tenggara

Konferensi yang diadakan oleh Asosiasi Worldsteel di bulan April lalu menyimpulkan bahwa meski kondisi ekonomi dunia sedang cukup rumit, namun pertumbuhan permintaan baja dunia ditaksir tetap positif. Di tahun 2019, pertumbuhan permintaan baja dunia diperkirakan akan naik menjadi 1,3% dan diharapkan lebih stabil di tahun berikutnya. Meski begitu, bukan berarti kondisi di tiap kawasan sama-sama berada pada sumbu positif. Negara-negara di benua Amerika, Uni Eropa, Jepang, Korea justru mengalami penurunan. Sedangkan Timur Tengah, Afrika Utara, Turki, dan CIS (Commonwealth of Independent State) masih berusaha optimis dalam kondisi naik turun yang sedang dialami. Pasar Asia lah yang masih menggeliat dengan negara-negara yang mendominasi seperti Cina, India, dan tentunya pasar baja di Asia Tenggara.

Asia Tenggara Melawan Tren

Saat ini, pasar baja di Asia Tenggara justru merupakan wilayah yang terus berkembang, sehingga wajar saja bila dikatakan melawan tren. Dikala pasar-pasar di belahan dunia lainnya cenderung stagnan, pasar baja Asia Tenggara mencatat pertumbuhan yang positif di tahun lalu dan diharapkan terus positif hingga tahun ini. Sektor konstruksi menjadi salah satu kartu as dari peningkatan aktivitas industri dan menggenjot permintaan baja. Buktinya, tahun lalu terdapat peningkatan presentasi dua digit dalam produksi baja ASEAN. Di Vietnam contohnya, terdapat peningkatan fasilitas lokal sehingga membantu untuk memberikan peningkatan output regional.

Cina: Pemasok Utama Produk Baja

Meski peningkatan produksi di kawasan Asia Tenggara terus meningkat, namun kawasan ini terus menjadi daerah pengimpor produk-produk baja China. Bagaimana tidak, meski permintaan baja di Cina masih cukup tinggi, tapi pasar domestiknya bisa dibilang melambat. Akibatnya, produsen-produsen Cina harus memperluas pasar ekspor mereka untuk menjual pasokan baja mereka yang melimpah, salah satunya ke ASEAN. Dengan Cina yang menggencarkan ekspor mereka, negara-negara pengeskpor lainnya seperti Turki, India, dan Rusia menaksir bahwa Cina akan mulai menurunkan harga ekspor mereka. Tentu saja hal ini dikarenakan Cina ingin mempertahankan pangsa pasarnya. Akhirnya, besar kemungkinan kondisi ini menjadi penyebab turunnya harga produk-produk baja di pasar dunia hingga akhir taun ini.

Pasar Baja Asia Tenggara Terhimpit Impor

Beberapa pandangan dan pendapat menyatakan serbuan sengit para pengekspor ini membuat para produsen baja Asia Tenggara sulit untuk memanfaatkan momentum meningkatkanya konsumsi regional. Produsen di beberapa negara Asia Tenggara telah mengajukan petisi untuk menerapkan langkah-langkah perlindungan perdagangan seperti kebijakan anti-dumping. Namun, hasilnya masih belum memuaskan karena aliran impor masih terus membanjiri kawasan ini. Dengan kata lain, produsen-produsen lokal semakin terhimpit dan semakin merugi. Kedepannya, kawasan Asia Tenggara masih terus menjadi pasar yang menarik bagi para pengekspor karena mampu berkembang ditengah pertumbuhan permintaan besi baja yang cenderung stagnan di kawasan lainnya.

Bagaimana?

Sedang berencana untuk membeli produk besi dan baja dalam waktu dekat? Semester kedua di tahun ini sepertinya merupakan momentum yang tepat jika Anda ingin membeli besi baja dengan harga yang lebih murah.

1+

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *